June 25, 2010

Saya Juga Berhak Atas Udara Bersih..

Posted in Uncategorized at 10:11 pm by Mrs. Ghifary

Maaf sebelumnya kalau ada kata2 yang kurang berkenan. Sekali lagi mohon maaf yang sebesar2nya. 🙂

Setelah hampir dua bulan menempuh perjalanan pulang pergi rumah-kantor  dengan menggunakan transportasi umum *baca:ojek, bis, kereta*, salah satu kesimpulan yang dapat diambil adalah, ada dua kategori utama penjahat udara: perokok, dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak lulus uji emisi. Penjahat? Iyah, penjahat. Orang yang mengambil hak orang lain, merugikan orang lain, menyakiti orang lain, apalagi dengan sadar dan tidak merasa bersalah, jahat kan? Yaudah saya sebut aja penjahat.

Bahas kategori kedua dulu deh. Sebagai pengguna bis umum non AC di Jakarta, polusi udah jadi makanan sehari2. Hidung dipaksa bekerja lebih keras dibandingkan mereka yang lebih beruntung udaranya sudah lebih dahulu difilter oleh AC kendaraan pribadi. Walau terpaksa pasrah dengan kotornya udara Jakarta, saya tetap merasa dijahati oleh mereka yang sadar bahwa kendaraannya tidak lolos uji emisi, tapi tetap tidak memperbaiki mesin kendaraannya supaya lolos uji emisi. Nah masalahnya, kebanyakan asap2 jahat yang saya hirup berasal dari bis2 yang hampir tak layak guna itu. Yaa tau lah ya, supir dan keneknya jauh lebih sibuk memikirkan pendapatan dan setoran, daripada berusaha `memutihkan` si asap hitam. Tampaknya untuk penjahat utama di kategori kedua ini, pemerintah kota dan dinas perhubunganlah yang lebih bertanggung jawab. Denger2 sih bis2 umum akan diACkan semua. Tapi jujur saya sebetulnya lebih milih bis nonAC tapi sistem pembuangan baik, daripada AC semua tapi ga lolos uji emisi *kenyataannya bis2 AC saat ini juga buruk pembuangannya*.  Well, mari kita tunggu saja kelanjutan bis umum AC ini.

Oke, mari bahas penjahat kategori satu, yang menjadi alasan utama saya membuat postingan ini: perokok. Buat saya perokok itu penjahat udara nomor satu. Hak hirup udara segar saya dirampas kalau berada di dekat perokok. Padahal itu kan udara saya juga. Emangnya dia bayar, kok pake ngotor2in udara milik bersama. (angry) Ya, lagi agak marah memang pas saya nulis ini. Ini aja udah agak redaan marahnya sebetulnya. Hmmmppfffh, tarik nafas, buang. Sabar. Senyum dulu. 🙂 Oke lanjut. 😀

Semuanya berawal dari perjalanan pulang kantor saya malam ini. Sebetulnya ada beberapa cara transportasi saya ke kantor, kapan2 saya posting deh *ga penting padahal, hehe*, tapi kali ini saya memilih untuk pulang naik Kopaja 66, bis non AC tentunya. Setelah beberapa menit bergumul dengan kemacetan Kuningan, tiba 2 naiklah seorang penumpang pria yang sedang merokok, duduk persis di depan saya yang ketika itu duduk di barisan tengah bis. Dengan santainya beliau meniup rokoknya dan menghembuskan asap mematikan itu. Tanpa rasa bersalah. Berulang-ulang. Mau tahu ada stiker apa yang tertempel di pintu bis yang terbuka? Stiker bertuliskan “Angkutan Umum Ini Adalah Kawasan Bebas Rokok”. Ya, tampaknya dia buta memang, atau membutakan diri. Saya yang duduk di belakangnya aja bisa liat stiker itu, apalagi dia. Tapi tampaknya dia juga tidak memperhatikan tulisan itu. Toh orang di sekitarnya aja yang “dia bunuh perlahan” aja dia tidak perhatikan. Hmmmppfffh, tarik nafas, buang. Sabar. Senyum dulu. 🙂 Oke lanjut. 😀

Kebiasaan pertama saya kalau ada orang di sekitar saya yang merokok adalah, saya mengibas2kan tangan, tanda tidak menyukai asap yang saya hirup. Dengan harapan perokok tersebut sadar bahwa dia sudah merugikan orang lain. Ya, saya tidak pernah sekalipun menegur perokok, tampaknya saya terlalu pengecut. Kadang memang berhasil si “kibas tangan” ini, tapi bukan tidak pernah saya gagal memperingati para perokok tersebut dengan cara halus tersebut. Masalahnya untuk kasus saya di Kopaja 66 kali ini adalah, perokok tersebut ada di depan saya, jadi beliau tidak bisa melihat kegelisahan saya yang haknya dirampas. Saya coba bersabar, berpikir positif bahwa hisapan berikutnya adalah yang terakhir, dan perokok tersebut akan mematikan rokoknya. Tapi setelah hisapan ntah ke berapa, saya mulai tidak kuat. Mengingat perjalanan masih cukup panjang dan saya tidak ingin terus menerus menghisap racun itu, saya rasa saya harus melakukan sesuatu. Hati sih ingin sekali marah-marah, tapi sekali lagi saya terlalu pengecut, terlalu lemah untuk sekedar menegur dengan sopan. Alasan yang sama yang saya gunakan selama ini: takut dimarahin balik sama perokoknya. Cupu ya. Biarlah untuk sementara ini, mudah2an ke depannya saya diberikan keberanian untuk menegakkan kebenaran dan memperjuangkan hak orang banyak *halah*. Hmmmppfffh, tarik nafas, buang. Sabar. Senyum dulu. 🙂 Oke lanjut. 😀

Apa yang kemudian saya lakukan? Saya pindah tempat duduk. Ke deretan ke dua dari depan, deket supir. Ffffiiiuuuuhh, lega rasanya hidung saya. Terbebas dari hembusan racun yang menyiksa. Maaf ya  perokok, saya tidak sempat menasihati Anda, tidak mengingatkan Anda kepada jalan yang benar. Sekali lagi maaf, saya doakan Anda bisa segera mennggalkan kebiasaan buruk yang membunuh tersebut. Atau paling tidak, saya doakan semoga Anda diberikan Allah kesadaran untuk menguasai racun itu untuk diri Anda sendiri, tidak membagi2nya dengan orang tak bersalah. Aamiin.

Sudah selesaikah penderitaan saya? Ternyata belum. Kurang dari1menit sebelum saya turun dari Kopaja 66 tersebut, Pak Supir yang duduk dekat saya menyalakan korek dan membakar rokoknya. Astaghfirullaaah. Ada yang merokok lagi dekat saya. Hmmmppfffh, tarik nafas, buang. Sabar. Senyum dulu. 🙂 Oke lanjut. 😀 Tapi sebetulnya Pak Supir tersebut lebih manusiawi, hembusannya diarahkan ke luar jendela, walau tetap menyisa dan menyinggung hidung saya. Selain itu frekuensi hirupnya jauh lebih sedikti dibanding perokok yang duduk di tengah2 bis tadi. Alhamdulillaah, saya cuma  ‘kebagian’ satu hirupan Pak Supir, halte saya tiba dan saya pun turun meninggalkan udara kotor bis itu. Dipikir2 untung sih, tadi ga jadi negur si perokok, jangan2 malah saya diusir sama Pak Supir, hehe.. 😀

Begitulah, ternyata udara bumi ini memang milik bersama, tapi banyak yang merampas dengan semena2. Ya, penjahat2 itu. Ya Allah, berikanlah hidayah kepada para penjahat2 itu, khususnya para perokok, supaya mereka bisa memiliki niat dan motivasi untuk berhenti, berusaha berhenti, dan pada akhirnya berhenti total dari tindak kriminalitas udara ini. Sehingga semua penduduk dunia bisa berbagi udara bersih bersama. Nyaman. Sehat. Lega. Karena udara bersih adalah hak utuhmu, dan hak milikku juga. 🙂

Advertisements

8 Comments »

  1. reiSHA said,

    ga cukup emot (angry) buat perokok syv. lebih cocok (idiot). tabokin dah tuh sama kursi. *ikutan emosi*

    • syva bonsall said,

      iya sha, pengennya sih juga marah2, nabokin pake kursi.. tapi apa daya.. gw masih selemah2nya iman ternyata, huhu.. (tears)

      • reiSHA said,

        Aku juga selemah2 iman sebenernya, huhuhu…

  2. ixnixnixn said,

    saya jg punya lhoo, versi ringkesnya tapi *versi malas lebih tepatnya* http://ixnixnixn.tumblr.com/post/584508940/banyak-asap-disana

    waktu itu yg di angkot si gw tegor tu bapak2 yg ngudut di dalem *saat jendelanya ditutup pula, pas ujan soalnya* abis gw tegor jg cuma buka jendela doang si, ngudutnya terus,, tp bsok2 coba aja syv ky gini :

    “pak/mas/dek maaf, klo bisa jgn merokok dulu. takut asma saya kumat, baru seminggu keluar dari rumah sakit soalnya *senyum*” masa ga berhasil sih? klo ga berhasil kayanya dia bukan manusia :/

    • syva bonsall said,

      iya son, klo di dalem angkot emang lebih parah.. cuma biasanya klo kaya gitu gw ngeluarin muka ke jendela, ngehirup udara segar Bandung dari sana *tetep ga berani negur*.. tp kebetulan gw duduk di bisnya ga di sebelah jendela, plus klo ngeluarin kepala juga dapetnya sama2 aja, polusi Jakarta.. hmmppffhh..

      wah negur biasa aja gw ga berani son, apalagi dibumbuin boong, hehe.. 😀 mudah2n berikut2nya bisa dapet keberanian deh.. hehe..

  3. anis said,

    wooooo kok bisa naik kopaja 66? itu mah tongkrongan saya tiap hari 😀

    BTW kalo saya sih biasanya langsung ngeliatin si perokok, ngeluarin tisyu atau tutup hidung sambil batuk2 biasanya yang diliatin ngerasa dan kalo nggak langsung matiin rokoknya, dia minta izin merokok dengan sopan (yang terakhir ini sih teuteup aja XD)

  4. ricong said,

    assa.
    gw jg sebel klo ada yg ngerokok. klo gw sih caranya langsung pasang tampang galak, nyebelin, benci, en masam ke si perokok, en nutup idung terang2an pake 2 jari tlunjuk ama jempol kyk nutup dari bau bangke. yaa hasilny sbagian besar berhasil sih. pdhl kan MUI dah ngluarin fatwa klo ngerokok itu haram kan yah?
    wass.

  5. ray rizaldy said,

    biasanya kepala emang panas duluan sih syv. tapi tips dari seorang temen daku bilang justru kita ga boleh panas dulu. kalo kita panas kita ga bisa negur secara halus ke orang yang ngerokok. dan kalo kita negurnya sambil marah2, dia bukannya ngerti tapi malah ngeyel biasanya.
    begitu deh. 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: