August 23, 2010

Pelatihan Shalat Khusyu Part II

Posted in Uncategorized at 10:29 pm by Mrs. Ghifary

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ini adalah bagian kedua, bagian pertamanya bisa dilihat di sini. Mari kita lanjutkan ke bagian berikutnya. Berhubungan dengan jurus ke2, akan saya ceritakan alasan ketidakkhusyuan shalat kita selama ini, yang telah saya janjikan di post sebelumnya. Menurut sang ustadz, selama ini shalat kita tidak khusyu, kering, karena kita melakukan shalat tanpa hati. Ya, bukan karena ga tau arti bacaan. Karena jika hanya sebatas mengerti arti, maka semua orang Arab harusnya shalatnya khusyu, walaupun pada kenyataannya tidak.

Hati adalah raja tubuh kita. Sedangkan mulut hanya sebatas ekspresi. Ketika raja tidur, maka prajurit akan bermain. Namun ketika raja berkuasa, maka prajurit tidak akan melakukan hal lain selain yang diperintahkan raja. Jika hati adalah raja, maka seluruh tubuh dan gerakannya adalah ungkapan sang raja. Maka ketika hati ini benar2 memujaNya, gerakan tubuh kita tak lain adalah cerminan puja-puji kepadaNya. Subhanallaah.

Nah kemudian apakah jurus ke2 itu? Ternyata jurus ke2 adalah, dalam shalat, hati haruslah ikut aktif berbicara. Ketika mulut membaca, maka hati pun berkomunikasi kepada Allah dengan bahasa hati. Hal ini membutuhkan waktu, tegas Ustadz. Oleh karena itu harus terus menerus dilatih. Seperti apakah hati yang aktif berbicara itu? Saya ceritakan pada contoh2 berikut:

  1. Mulut mengucap Allaahu Akbar, sementara hati berkomunikasi padaNya:

“Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Besar”

  1. Mulut mengucap Bismillaahirrahmaanirraahiim, sementara hati berkomunikasi padaNya:

“Dengan menyebut namaMu Ya Allah, Engkau Maha Pengasih, Engkau Maha Penyayang”

Ketika hati telah ikut aktif berbicara, maka rasa merinding, kenikmatan, kekhusyuan itu akan datang dengan sendirinya, diberikan olehNya. Jadi bukan karena konsentrasi maka khusyu, tetapi karena khusyu maka konsentrasi.

Jurus ke3 adalah hati kita curhat. Apa itu? Jadi jelas beliau, hati kita bisa improvisasi selama masih sejalan dengan ucapan. Maksudnya? Kita bisa membawa apa2 yang ingin kita adukan atau curahkan kepada Allah ke dalam shalat selama masih sesuai dengan bacaan shalat. Misal dalam duduk di antara dua sujud ketika kita menyebut wa’aafinii, hati kita curhat mengenai kesehatan kita, dan permohonan kita akan kesembuhan. Kita pun boleh memperbanyak bacaan, misal subhana rabbial a’la bisa diucapkan 3kali, 10 kali, atau sebanyak yang kita rasa cukup, sesuai dengan kondisi kita saat itu.

Kita juga boleh memperbanyak doa pada waktu sujud terakhir dan sebelum salam pada tahiyat akhir. Jika kita hafal doa yang berasal dari quran atau hadits, boleh kita baca dan ucapkan dengan mulut dalam waktu2 tersebut, tentunya sambil hati kita berbicara mengenai maknanya. Namun  jika kita tidak hafal doa quran atau hadits, maka kita boleh memohonkan apa saja dalam waktu2 tersebut dengan bahasa sendiri namun hanya di dalam hati sementara mulut kita tetap diam.

Layaknya seseorang yang ingin mengajukan proposal, istilahnya dia akan mengajak ngobrol orang yang akan diberi proposal dengan sebaik2nya, sebelum pada akhirnya dia akan berkata, “pak, sebenernya saya ingin mengajukan ini loohh..”. Begitulah analogi untuk doa di akhir sujud dan tahiyat akhir. Itulah saat2 kita menceritakan kebutuhan kita, proposal kita, tapi tentunya dengan pendahuluan yang baik, tak lain dan tak bukan adalah shalat khusyu. 🙂

3jurus telah diceritakan kembali di atas. Berikutnya akan saya tambahkan hal2 terkait shalat khusyu yang juga dibahas selama pelatihan. Menurut sang ustadz, shalat itu harus ada efeknya, yakni bentuk pengamalan apa2 yang di dalam shalat, pujian terhadapNya, juga janji yang telah ditanamkan dalam diri. Karena sesungguhnya shalat akan mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat juga adalah istirahat jiwa. Shalat khusyu membiarkan jiwa kita untuk rehat sejenak dari dunia. Shalat khusyu menurut ustadz, mudah bagi orang yang memang ingin bersyukur dan benar2 butuh kepada Allah dengan shalatnya. Cepat atau lambatnya shalat khusyu bisa distel, tergantung kondisi saat itu. Kalau imam terlalu cepat, kita boleh saja hanya mengucap tasbih sujud hanya sekali, namun khusyu. Kekhusyuan tidak bergantung dengan kondisi luar. Gangguan luar tidak seharusnya mengurangi kekhusyuan, karena khusyu itu masalah hati, bukan panca indera lainnya. Pada awal belajar shalat khusyu, dibolehkan menutup mata. Namun jangan terus menerus, karena dikhawatirkan menutup mata bisa mempengaruhi kita untuk membayangkan wujud Allah. Kita diperbolehkan menangis saat shalat namun dengan adab menangis sebagai berikut:

  1. Tidak boleh histeris
  2. Jika mulai histeris, bacaan dihentikan dulu
  3. Menangis tidak boleh lebih dari satu huruf. Jika nangisnya mode huuuu maka huuu aja terus, jangan ganti jadi haaaa, dalam satu gerakan. Kalo udah beda gerakan, ga masalah. Kenapa ga boleh ganti huruf? Karena dalam bahasa arab bisa dianggap satu kata sendiri jika udah berubah2 mode bunyi nangisnya.

Terakhir, terkait dengan shalat berjamaah. Ketika saya bertanya, apa yang seharusnya dibicarakan hati ketika Imam mengumandangkan surat yang tidak kita ketahui maknanya? Ustadz pun menjawab:

  1. Tetap dengarkan
  2. Mulut diam, hati silahkan saja berdoa, tasbih, tidak boleh kosong

Yang menarik adalah, beliau berkata bahwa, sebetulnya dalam shalat berjamaah yang paling penting adalah kekhusyuan imam. Imam harus khusyu karena dialah jubir kita di hadapan Allah. Ketika mengucap doa dalam shalatnya pun, Imam harus memanjatkan doa banyakan, karena istilahnya kita sebagai makmum cuma nebeng doa. Begitulah, kekhusyuan makmum istilahnya ditanggung sama Imam. Kalimat ini yang sukses bikin saya stress keringet dingin deg2an ketika sabtu lalu untuk pertama kali setelah melakukan pelatihan ini, terpaksa menjadi imam untuk keempat teman perempuan saya. Saya stress, karena sudah sadar bahwa akan menanggung kekhusyuan teman2 saya. Huhu.. >.< Tapi ada positifnya juga jadi imam, jadi secara ga langsung berusaha untuk khusyu dan konsisten. 🙂

Ffiuuuhh.. Panjang ya.. Agak berat juga sebetulnya nulisnya, mengingat sekali lagi shalat saya juga belum khusyu. >.< Tapi saya lega udah nyeritain semua di sini. Karena seperti kalimat yang tertera di buku saku shalat khusyu sang ustadz, ajarkanlah kepada orang lain tentang shalat khusyu ini. 🙂  Semoga bermanfaat, sekali lagi yang benar adalah dari Allah, kesalahan berasal dari saya pribadi. Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Advertisements

1 Comment »

  1. […] barusan saya baca tulisan baru dari teman saya yang lain, kuncinya shalat khusyu juga ada di hati. Hiks. Ya Allah, ampuni hambaMu […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: