August 25, 2010

Fiqih Pendidikan Anak Pra Baligh dan Baligh

Posted in Uncategorized at 11:14 am by Mrs. Ghifary

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kajian hari ke-10 Ramadhan 1431H – Ustadzah Nur Hamidah

Kajian kali ini merupakan kajian muslimah, diisi oleh seorang ustadzah muda yang sedang mengandung muda pula *semoga dilancarkan teh :)*. Dan ternyata temanya juga berkaitan dengan anak, yakni fikih pendidikan anak pra baligh dan baligh dalam Islam.

Kajian dimulai dengan penuturan beliau bahwa anak bisa menjadi penolong atau penggugat orang tuanya. Beliau menceritakan, ada seorang bapak yang  tertatih2 berjalan di atas shirathal mustaqim, dan akhirnya kemudian tergelincir, namun terselamatkan berkat doa tulus anaknya. Memangnya anaknya doa apa? Ternyata bukan doa yang macam2 loh, tampaknya hampir semua anak muslim hafal doa ini. Yup, doa orang tua. Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraah. Subhanallah. 🙂

Sebaliknya, anak juga dapat menjadi penggugat orang tuanya. Beliau menceritakan kisah di jaman Rasulullaah ketika ada seorang anak yang hendak dihukum karena mencuri, namun anak tersebut menginginkan keadilan dengan meminta ibunya yang dihukum, karena ibunyalah yang mengajarkan ia untuk mencuri. Naudzubillaah. Dari latar belakang itulah beliau mengajak untuk mengajarkan anak dengan sebaik2nya. Ibaratnya, maukah kita orang tua nanti di surga dituntut anak kita hanya karena anak kita tidak beristinja dengan baik dan benar, karena kesalahan/kekurangan ajaran kita? *menurut beliau istinja yang tidak bersih berakibat sesuatu yang cukup fatal, tapi saya lupa apa yah, kalo ga salah tidak diterima shalatnya, cmiiw .. :D*

Lalu siapakah anak itu? Menurut beliau ada perbedaan pemahaman mengenai anak dalam kaidah Islam dengan anak dalam kaidah kehidupan sehari-hari *khususnya di Indonesia*. Dalam Islam, anak adalah fase pemula dalam rentang kehidupan manusia. Tepatnya ada dua fase menurut Islam dipandang dari sisi hukum, fase pra baligh (belum dewasa), dan fase baligh (dewasa).  Pada fase baligh seseorang sudah bertanggungjawab secara langsung terhadap seluruh ucapan, sikap, tindakan yang dia lakukan, baik kepada Allah maupun aparat hukum di dunia. Maka sudah sepantasnya orang tua memperlakukan anak yang telah memasuki fase baligh sebagai seorang dewasa.

Beliau kemudian menceritakan pengalaman seorang teman perempuannya ketika mencapai masa baligh, kira2 di awal SMP. Saat itu sang Ibu dari temannya meminta sang anak untuk berwudhu dan memakai mukena. Setelah berwudhu dan memakai mukena, sang anak pun diajak sang ibu untuk duduk berhadapan, kemudian keduanya saling berjabat tangan layaknya ijab. Sang ibu pun kemudian berkata yang kurang lebih intinya adalah sebagai berikut, “Nak, kini sudah tiba saatnya bagimu untuk bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Selama ini jka engkau melakukan kesalahan, Ibu lah yang menanggung dosa2mu. Namun kini kau sudah baligh, sudah dewasa. Dan Ibu tidak bisa lagi membantumu mempertanggungjawabkan semua ucapan dan perbuatanmu. Kini malaikat Rakib dan Atid di kanan kirimu siap untuk mencatat semua amal perbuatanmu. Maka berhati2lah dalam melakukan sesuatu, karena sungguh seluruhnya akan dicatat oleh kedua malaikat tersebut.” Subhanallaah.

Saat ini banyak anak perempuan yang memasuki masa baligh dalam usia muda. Dan umumnya orang tuanya menganggapnya masih seperti anak kecil. Padahal hal tersebut adalah salah menurut ustadzah. Bandingkan dengan Usamah bin Zaid. Pemuda hebat yang pada usia belianya, 13tahun, sudah dipercayakan oleh Rasulullaah memimpin pasukan perang Islam. Tidak tanggung-tanggung, kala itu musuhnya adalah sekutu bangsa2 besar, yakni Quraisy, Persia dan Romawi. Subhanallaah.

Ada yang tahu mengapa diperintahkan untuk mengajarkan shalat kepada anak ketika umur 10tahun, kemudian dipersilahkan untuk memukul anak umur 10tahun yang tidak shalat? Ternyata memang usia tersebut pada jaman sekarang ini, sudah masuk usia baligh (khususnya untuk perempuan). Bahkan sudah ada yang menjadi baligh di usia 8, 9tahun. Oleh karena itu memang sudah saatnya untuk bersikap tegas kepada mereka, menyikapi mereka yang sudah harus dianggap orang tua sebagai orang dewasa.

Sedikit membahas tentang `memukul`. Menurut beliau, memukul walau diperintahkan, tapi bukan berarti jadi landasan orang tua memukul anak. Karena Rasulullaah sendiri tidak pernah memukul anaknya. Nabi Ayyub sendiri yang bernazar untuk memukul istrinya 1000kali jika sembuh dari sakit, pada akhirnya memohon wahyu dulu dari Allah untuk memukul sitrinya, ga langsung asal pukul saja. Dan pada akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ayyub untuk mengumpulkan 1000batang padi kering, mengikatnya kemudian memukulkannya sekali kepada istrinya, yang melambangkan nazar 1000kali pukulannya. Jadi tidak segampang dan seringan itu untuk memukul, walau diperintahkan. Karena Islam penuh kasih sayang, bukan? 🙂

Sang ustadzah pun kemudian menjabarkan pendidikan dan pengasuhan anak dalam tiga bagian per 6tahun. Untuk 6tahun pertama, utamakanlah kasih sayang dan disiplin. Limpahkan kasih sayang, pelihara disiplin untuk segala hal. Contoh, disiplin dalam makan, buang air, tidur dan sebagainya. Pada 6tahun ke dua, kenalkanlah Allah dalam hidupnya. Jelaskanlah hukum-hukum Islam, seperti halal dan haram, aurat, wudhu, shalat, mencuri, mahram, juga surga dan neraka. Ajarkan dan biasakanlah ia dengan Al-Quran. Ajarkan juga mengenai hak-hak orang tua. Kenalkanlah dengan tokoh2 teladan dalam Islam. Ajarkan norma2 dalam masyarakat, dan tak lupa kembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab. Pada 6tahun terakhir, perlakukanlah anak sebagai seorang yang telah dewasa. Yang tak kalah penting, kenalkanlah ia dengan teman yang baik. Sebetulnya poinnya tidak sesedikit ini, tapi yang sempat tercatat hanya yang telah saya tuliskan di atas. Maaf yaa.. 😀

Pada akhir kajian, beliau membacakan tulisan indah dan cukup panjang, yang intinya adalah anak kita tanpa kita sadari memperhatikan apa-apa yang kita lakukan. Dan ternyata tindakan kita yang mereka perhatikan, lebih mudah untuk dipahami dan tertanam dalam diri anak, dibandingkan ucapan kita. Oleh karena itu hati-hati lah para orang tua dalam bertindak dan bertingkah laku.

Terakhir, beliau menutup dengan sebuah kalimat yang cukup dalam. Tutur beliau, “Yang penting itu bukanlah seberapa cerdas anak kita, namun lihatlah betapa cerdasnya anak kita”. Subhanallaah.

Oke sekian penceritaan kembali kajian kali ini. Semoga bermanfaat. 🙂

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Advertisements

4 Comments »

  1. adnan said,

    bagus syv, eh btw ini pengajian di kantor lo tiap hari ya?

    • syva bonsall said,

      memang yang ngisi bagus-bagus semua ustadznya.. gw kan hanya pencerita ulang saja.. hehe.. iya Nan tiap hari, alhamdulillaah.. 🙂

      • adnan said,

        wah enak bgt ya tiap hari bisa dapat pengajian.. hehe

      • syva bonsall said,

        alhamdulillaah.. klo Ramadhan ada terus tiap weekdays, klo ga Ramadhan biasanya tiap kamis.. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: